Edukasi10 menit baca

Punya Rumah di Usia 20-an: Impian Realistis atau Cuma FOMO?

ika

19 September 2026

Punya Rumah di Usia 20-an: Impian Realistis atau Cuma FOMO?

Rumah di usia 20-an, realistis atau cuma FOMO? Temukan jawabannya dan siapkan langkahmu menuju rumah pertama.

Punya rumah di usia 20-an bisa menjadi satu pencapaian besar. Terlebih kini kita sering melihat di media sosial dan melihat banyak rekanan sebaya berhasil membeli rumah. Hal tersebut menjadi satu motivasi yang mendorong diri untuk terus maju. Bukan hanya ikut termotivasi saja, disisi lain juga sering muncul pertanyaan : “Apakah aku harus punya rumah sekarang, juga?

Pertanyaan tersebut semakin relevan apabila rumah tidak sekedar tempat tinggal. Lebih dari itu, keputusan membeli rumah merupakan keputusan finansial jangka panjang sehingga perlu dipikirkan matang-matang. 

Dengan demikian, apakah punya rumah di usia 20-an adalah impian yang realistis atau hanya FOMO saja? 

Kenapa Punya Rumah di Usia 20-an Terasa Seperti Sebuah Keharusan?

Dulu, rumah dianggap sebagai satu pencapaian setelah seseorang memiliki pekerjaan mapan, menikah atau memasuki usia 30-an. Namun, saat ini situasinya mulai bergeser. Tidak sedikit anak muda yang berhasil mendapatkan penghasilan lebih awal, berkarir secara remote, bangun bisnis atau memiliki beberapa pekerjaan sekaligus. 

Selain itu, informasi mengenai investasi serta properti juga mudah didapatkan. Belum lagi update di media sosial seperti “umur 25 sudah punya rumah” atau “tips membeli rumah sebelum menikah” kerap muncul di timeline. Hal ini secara tidak langsung membuat kita mulai membandingkan perjalanan finansial sendiri dengan orang lain. 

Ada yang bisa membeli rumah karena membutuhkan tempat tinggal. Ada juga yang dibantu pihak keluarga. Ada yang membeli dengan KPR. Ada juga yang jauh-jauh hari sudah menyiapkan tabungan. 

Dengan ini, ketika melihat seseorang berkeinginan punya rumah di usia 20-an tidak serta merta membuat kita harus mengikuti timeline yang sama. 

Rumah di Usia 20-an Itu Realistis, Asalkan

Membeli rumah di usia 20-an tidaklah mustahil. Usia 20-an bisa menjadi periode yang menarik untuk mulai memikirkan investasi properti. Namun, bukan serta merta harus buru-buru membeli rumah. Langkah pertama penting dilakukan adalah melihat kemampuan finansial secara realistis. 

1. Memiliki Penghasilan yang Relatif Stabil

Salah satu pertimbangan utama yaitu penghasilan. Bukan sekedar besaran gaji setiap bulan, melainkan seberapa stabil penghasilan tersebut. Selain itu apakah memungkinkan juga untuk membayar cicilan dan kebutuhan harian juga tercover dengan baik. 

Katakanlah, seseorang memiliki penghasilan Rp 10 juta setiap bulan. Sekilas angka tersebut terlihat cukup besar. Tetapi, jika sebagian besar digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, membantu keluarga serta biaya-biaya lainnya, kemampuan untuk mencicil rumah tentu berbeda. 

Untuk itu pertanyaannya jangan sekedar “Bisa bayar cicilan berapa?” melainkan lebih pada “Setelah membayar cicilan apakah masih bisa hidup dengan nyaman?”

2. Memiliki Dana Darurat 

Membeli rumah tidak sekedar membutuhkan uang untuk bayar cicilan. Terdapat biaya lain yang perlu diperhatikan, seperti uang muka, biaya administrasi, pajak, notaris, biaya akad sampai biaya untuk membeli furniture. 

Belum lagi ketika ada hal tidak terduga, seperti tiba-tiba kehilangan pekerjaan atau memiliki pengeluaran yang besar. Apabila semua tabungan digunakan untuk membeli rumah sehingga tidak memiliki dana cadangan, kondisi finansial bisa menjadi cukup berat. 

Sebaiknya, sebelum mengambil komitmen besar, seperti KPR, sebaiknya kamu memiliki dana cadangan yang memadai. Dengan demikian, rumah tidak menjadi sumber masalah finansial di kemudian hari. 

3. Tidak Memiliki Beban Utang yang Berlebihan

Cicilan rumah merupakan komitmen jangka panjang. Untuk itu, coba lihat semua kewajiban yang dimiliki. Apabila memiliki beban hutang konsumtif yang cukup besar, lebih baik untuk menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum memutuskan mengambil cicilan. 

Hal ini tidak serta merta bebas dari hutang yang dimiliki, tetapi sebaiknya besaran kewajiban bulanan berada dalam batas yang aman. 

Tampilan interior Sapphire Griya Modern
Tampilan interior Sapphire Griya Modern


Jangan Beli Rumah Hanya Karena FOMO

FOMO atau Fear of Missing Out merupakan rasa takut tertinggal ketika melihat orang lain melakukan sesuatu. Berbicara mengenai properti, FOMO bisa muncul ketika melihat teman sudah memiliki rumah sedangkan kita masih menyewa, tinggal bersama orang tua maupun masih pindah tempat tinggal. 

Membeli rumah karena FOMO dapat membuat keputusan terasa mendesak.  

“Kalau nggak beli sekarang, nanti harga rumah makin mahal.”

“Teman-temanku sudah punya rumah semua.”

“Umur 27 kok belum punya rumah?”

“Kayaknya aku gagal mengatur keuangan.”

Kalau kita mau melihat lebih jauh, memiliki rumah bukanlah sebuah perlombaan. Tidak ada garis finish yang mengatakan seseorang harus memiliki rumah di usia tertentu. Apabila belum siap secara finansial, melakukan penundaan tidak serta merta mengatakan kita gagal. 

Apabila sudah siap dan memiliki tujuan yang jelas, membeli rumah di usia 20-an merupakan satu keputusan yang masuk akal. 

Baca Juga : Perkembangan Ekonomi Slawi: Kenapa Kawasan Ini Cocok untuk Investasi Rumah? 

Apa Keuntungan Membeli Rumah di Usia 20-an?

Terdapat beberapa alasan kenapa banyak orang yang membeli rumah di usia yang muda. 

1. Punya Waktu Lebih Panjang untuk Mencicil 

Saat membeli rumah di usia 25 tahun dan mengambil tenor panjang, kamu memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan cicilan sebelum pensiun. Tetapi, tenor dan jumlah cicilan tetap harus disesuaikan dengan kemampuan finansial. 

2. Menjadi Aset Jangka Panjang

Rumah bisa menjadi tempat tinggal serta aset. Tetapi, jangan langsung beransumsi apabila semua rumah memiliki kenaikan nilai yang sama. Lokasi, akses, fasilitas, kondisi lingkungan sekitar, perkembangan kawasan serta berbagai faktor lain yang mempengaruhi nilai sebuah properti.

Untuk itu, hindari membeli rumah hanya karena asumsi “Nilainya pasti naik.” Penting untuk melakukan riset terlebih dahulu.

3. Membantu Membentuk Kebiasaan Finansial

Ketika memiliki cicilan bisa membuat seseorang lebih disiplin mengatur keuangan. Ada kewajiban yang harus dibayarkan setiap bulannya. Tetapi, hal ini berlaku apabila cicilan sesuai dengan kemampuan. Jangan sampai disiplin finansial malah menjadi sebuah tekanan karena cicilan yang terlalu besar. 

Kekurangan Membeli Rumah Terlalu Cepat

Selain memiliki berbagai kelebihan, membeli rumah di usia 20-an juga ada tantangannya sendiri. Salah satunya adalah fleksibilitas. Usia 20-an adalah fase saat karier masih terus berkembang. Dalam hal ini, bisa tiba-tiba kamu mendapatkan penerjaan di kota lain, memulai bisnis, lanjut pendidikan, atau merubah gaya hidup. 

Ketika sudah memiliki rumah, perpindahan tersebut menjadi satu proses yang rumit. Selain itu ada juga biaya perawatan rumah. Pompa air rusak, AC yang tiba-tiba bermasalah, atap bocor sampai renovasi kecil yang mengeluarkan biaya. 

Dengan demikian, jangan hanya menghitung kemampuan membeli rumah berdasarkan cicilan. Penting juga untuk menghitung biaya rumah secara keseluruhan. 

Bagaimana Cara Tahu Sudah Siap Punya Rumah?

Alih-alih mengikuti usia orang lain, lebih penting untuk melakukan evaluasi diri terlebih dahulu: 

Apakah penghasilan saya cukup stabil?

Apakah saya memiliki dana darurat?

Apakah saya punya tabungan untuk biaya awal pembelian rumah?

Apakah cicilan rumah masih nyaman setelah kebutuhan rutin dibayar?

Apakah saya memang membutuhkan rumah dalam beberapa tahun ke depan?

Apakah lokasi rumah sesuai dengan rencana hidup saya?

Apakah saya memahami biaya tambahan di luar cicilan?

Apakah saya membeli karena kebutuhan atau karena melihat orang lain?

Apabila sebagian jawaban sudah jelas dan positif, membeli rumah di usia 20-an merupakan salah satu pilihan yang tepat dipertimbangkan. 

Tetapi, apabila jawabannya masih banyak yang belum siap, tidak harus memaksakan diri. 

Kalau Belum Bisa Beli Rumah, Harus Bagaimana?

Belum bisa membeli rumah bukan berarti belum bisa mempersiapkan diri. Justru, usia 20-an bisa dimaksimalkan untuk membangun pondasi keuangan. Kamu bisa mulai dengan menentukan target. 

Misalnya, ketika ingin membeli rumah dalam lima tahun kedepan. Berangkat dari target tersebut, kamu bisa membuat estimasi harga yang sesuai dengan kemahalan dan menghitung dana yang perlu disiapkan setiap bulan. 

Penting juga untuk memisahkan antara tabungan rumah dari rekening untuk kebutuhan sehari-hari supaya target bisa dipantau. Bukan hanya menabung, tingkatkan juga kemampuan menghasilkan uang. 

Kamu bisa meningkatkan skill, mencari tambahan penghasilan, membangun bisniis atau mengembangkan karier yang bisa membantu kapasitas finansial di masa depan. 

Yang tidak kalah penting yaitu belajar mengenai properti. Kamu bisa mempelajari dari lokasi, harga tanah, akses transportasi, tipe rumah, skema KPR serta biaya-biaya tambahan. 

Dengan demikian, saat waktunya tiba, keputusan yang diambil bukan sekedar impulsif. 

Rumah Pertama Tidak Harus Rumah Impian

Satu hal yang kerap dilupakan saat membahas rumah di usia 20-an yaitu rumah pertama tidak harus langsung rumah impian. Banyak orang membayangkan rumah pertama dengan halaman luas, desain estetik, garasi besar. 

Padahal, rumah pertama tidak harus yang mewah. Lebih pada memilih hunian yang compact sehingga bisa memenuhi kebutuhan ruang untuk aktivitas sehari-hari. 

Sapphire Griya Modern: Salah Satu Pilihan untuk Dipertimbangkan Anak Muda

Bagi anak muda yang mulai mencari rumah pertama di kawasan Jawa Tengah, Sapphire Griya Modern dapat menjadi salah satu nama yang masuk dalam daftar pencarian.

Sapphire Griya Modern mengembangkan beberapa kawasan dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda. Di antaranya Sapphire Scandia Brebes, Sapphire Serenity Slawi, dan Sapphire Serenity Adiwerna.

Ketiganya dapat menjadi contoh bahwa mencari rumah bukan hanya tentang menemukan bangunan dengan harga tertentu, tetapi juga melihat value kawasan dan kebutuhan calon penghuninya.

Jadi, Impian atau FOMO?

Memiliki rumah di usia 20-an dapat menjadi impian yang sangat realistis apabila didukung dengan perencanaan finansial yang matang. Tetapi, hal tersebut bisa menjadi FOMO apabila tujuan beli rumah supaya tidak tertinggal dengan orang lain. 

Yang lebih penting bukan seberapa cepat kamu bisa memiliki rumah, tetapi seberapa siap kamu untuk memilikinya. Apabila sudah siap, silahkan mencari rumah yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan. Sebaliknya, apabila belum siap kamu bisa menunda sambil memperkuat kondisi finansial. 

Karena membeli rumah bukan sekadar membeli bangunan.

Ini adalah keputusan jangka panjang yang akan ikut memengaruhi gaya hidup, keuangan, dan rencana masa depan.

Untuk itu, daripada bertanya : “Di umur berapa saya harus punya rumah? Bisa dirubah dengan “Kapan kondisi finansial saya cukup siap untuk memiliki rumah?

Sudah Mulai Serius Cari Rumah Pertama?

Kalau setelah membaca pembahasan ini kamu mulai berpikir untuk memiliki rumah di usia 20-an, mungkin sekarang saatnya bukan sekadar scrolling informasi, tetapi mulai melihat pilihan secara langsung.

Sapphire Griya Modern menghadirkan pilihan kawasan seperti Sapphire Scandia Brebes, Sapphire Serenity Slawi, dan Sapphire Serenity Adiwerna yang bisa kamu pertimbangkan sesuai kebutuhan dan rencana tempat tinggal.

Tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan. Mulai dari melihat lokasi, mengenali tipe rumah, memahami fasilitas kawasan, hingga menghitung skema pembayaran yang sesuai dengan kemampuan.

Cari tahu pilihan rumah yang paling sesuai untukmu bersama Sapphire Griya Modern.

Konsultasikan kebutuhan rumah pertamamu dan jadwalkan survei lokasi sekarang.

FAQ Seputar Rumah di Usia 20-an

1. Apakah di usia 20-an sudah ideal untuk membeli rumah?

Tidak ada usia yang secara universal paling ideal untuk membeli rumah. Usia 20-an bisa menjadi waktu yang tepat jika penghasilan stabil, memiliki dana untuk biaya awal, dana darurat cukup, dan cicilan sesuai kemampuan.

2. Berapa gaji yang dibutuhkan untuk membeli rumah di usia 20-an?

Tidak ada angka gaji yang berlaku untuk semua orang. Kemampuan membeli rumah bergantung pada harga rumah, uang muka, tenor cicilan, pengeluaran rutin, utang lain, serta kondisi finansial masing-masing.

3. Lebih baik membeli rumah atau menyewa di usia 20-an?

Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Membeli rumah memberikan kepemilikan aset, tetapi membutuhkan komitmen finansial dan mengurangi fleksibilitas. Menyewa memberikan fleksibilitas lebih tinggi, terutama bagi orang yang masih mungkin berpindah kota karena pekerjaan atau pendidikan.

4. Apakah membeli rumah di usia 20-an terlalu cepat?

Tidak selalu. Yang perlu diperhatikan bukan hanya usia, tetapi kesiapan finansial dan kebutuhan. Membeli rumah terlalu cepat bisa menjadi masalah jika cicilan terlalu besar atau kondisi hidup masih sangat mungkin berubah.

5. Bagaimana cara mulai menabung untuk rumah?

Tentukan target harga rumah, estimasikan dana awal yang dibutuhkan, lalu buat target tabungan bulanan. Sebaiknya tabungan rumah dipisahkan dari dana darurat dan kebutuhan sehari-hari.

6. Apakah rumah pertama harus mahal dan besar?

Tidak. Rumah pertama sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan finansial. Rumah sederhana yang cicilannya sehat bisa menjadi pilihan yang lebih masuk akal dibanding rumah besar yang membuat keuangan terlalu terbebani.

7. Bagaimana menghindari FOMO saat membeli rumah?

Fokus pada kondisi finansial dan rencana hidup sendiri. Jangan membeli hanya karena teman sebaya sudah memiliki rumah atau karena tren di media sosial. Bandingkan pilihan berdasarkan kebutuhan, kemampuan, lokasi, dan tujuan jangka panjang.

8. Kalau belum mampu membeli rumah di usia 20-an, apakah terlambat?

Tentu tidak. Setiap orang memiliki kondisi dan perjalanan finansial yang berbeda. Usia 20-an bisa digunakan untuk meningkatkan penghasilan, mengurangi utang, membangun dana darurat, menabung, dan mempelajari pasar properti sebelum akhirnya membeli rumah ketika sudah lebih siap.


Bagikan:

FAQ

Pertanyaan Umum